"Go alone my flower
And keep my whole lovely you
Wild green stones alone my lover
And keep us on my heart"
Radio telah menyala di sudut kamar. Namun aku tak
berkenan mendengarnya. Aku sibuk menyumpal telinga dengan earphone, mendengarkan tembang kesayangan. Tembang kesayangan yang
menggores kenangan. Kenangan yang terbilang singkat.
Memang tak ada kaitan antara tembang dan kenangan yang
kumiliki. Hanya faktor ketidak-sengajaan yang terjadi.
Aku melihat dia yang pintar menari. Keselarasan tembang
dan geraknya, membuatku tak berkedip sama sekali.
Dan aku melihat dia yang pintar nalarnya. Sikap kikuknya
membuatku tertawa manis manja.
Dan aku menyentuh dia yang pintar nalarnya. Sejumput kegilaan
bersarang dalam kepala.
Dan aku merindu dia yang pintar nalarnya. Hampir setiap
malam aku terjaga dibuatnya.
Aku lelah akan terjaga di malam yang segelap jelaga. Kedua
mata ini telah berkantung muram, warnanya suram bak suasana penjara. Pikiran tunggang
langgang mengingat kenangan-kenangan lama. Ingin rasanya melepas
kegilaan-kegilaan itu sejenak saja. Hanya untuk kembali waras.
Aku teringat pada dia yang pintar menari. Kucoba untuk
melihatnya menari lagi, dalam layar kaca yang terfasilitasi tombol-tombol
ketik. Yang biasa digunakan pada zaman kini untuk berkomunikasi.
Aku kira rindu ini akan terobati. Nyatanya malah makin
nyeri tidak terperi. Ternyata aku ingin dia yang pintar nalarnya kembali secara
riil. Kembali dan tak pernah pergi lagi.
( 27 / 12 / 13)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar